Direktur Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan perang dagang Amerika Serikat (AS)-China menyebabkan kekhawatiran perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia.
Beberapa lembaga keuangan internasional bahkan merevisi target pertumbuhan ekonomi. Bank Dunia memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia dari 2,9 persen menjadi 2,6 persen. Sementara Lembaga Dana Moneter Internasional (IMF) menurunkan dari 3,5 persen menjadi 3,3 persen.
Ia menyebutkan eskalasi perang dagang itu menimbulkan kekhawatiran terjadinya resesi ekonomi global. Resesi ekonomi didefinisikan sebagai kontraksi pertumbuhan ekonomi yang terjadi pada dua kuartal berturut-turut.
Sinyal tersebut mulai tampak dari kontraksi dan perlambatan pertumbuhan ekonomi beberapa negara pada kuartal II 2019. Di samping itu, terjadi inversi atau pembalikan arah imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS alias yield obligasi jangka pendek lebih tinggi ketimbang jangka panjang. Dalam hal ini yield obligasi tenor 2 tahun lebih tinggi ketimbang 10 tahun. Beberapa kalangan menilai kondisi itu mencerminkan sinyal resesi ekonomi global."Memang saat ini sentimen resesi sedang besarnya tapi itu wajar karena sentimen perang dagang AS-China memicu perlambatan ekonomi," katanya kepada CNNIndonesia.com.
Ia mengatakan hal tersebut membuat pasar fluktuatif lantaran investor asing mudah melarikan dananya ketika terjadi sentimen negatif dari global. Mengutip RTI Infokom, investor asing mencatat jual bersih (net sell) sebesar Rp1,65 triliun sepanjang pekan lalu. Meskipun sejak awal tahun masih mencatat beli bersih (net buy) sebesar Rp57,25 triliun.
"Tentu hal ini dampaknya akan kemana-mana, ke mata uang kita, lalu arus inflow dan outlfow yang terkena akibatnya," tambahnya.
Di tengah kondisi tersebut, pelaku pasar harus jeli dalam memilih saham. Ia menganjurkan investor untuk mengkoleksi saham yang defensif di tengah volatilitas pasar.
Saham defensif adalah saham perusahaan-perusahaan yang mampu menjaga kinerja keuangannya stabil di tengah tekanan ekonomi. Dengan koreksi saat ini, bukan tidak mungkin saham-saham tersebut juga ikut terdiskon. Namun, saham defensif berpeluang pulih lebih cepat ketika kondisi pasar mulai membaik, lantaran kondisi fundamental saham-saham tersebut masih kuat.Nico mengatakan sektor defensif pertama adalah sektor perbankan. Ia menuturkan sektor perbankan mendapatkan angin positif dari penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) sebesar 25 basis poin (bps) dari 5,75 persen menjadi 5,5 persen pada Agustus.
Pasalnya, penurunan suku bunga tersebut akan mengurangi biaya dana (cost of fund) perbankan. Turunnya biaya dana akan diikuti dengan penurunan tingkat suku bunga deposito dan kredit, meskipun membutuhkan waktu transmisi.
"Saham perbankan tetap nomor satu. Dengan penurunan suku bunga acuan akan mendorong penurunan kredit sehingga perbankan diprediksi akan menggeliat," katanya.
Ia merekomendasikan saham-saham perbankan antara lain PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI). Pada perdagangan pekan lalu, saham BNI ditutup di level Rp7.625 per saham naik 0,33 persen, sejak awal tahun sahamnya turun 13,35 persen.
Sementara itu, BRI ditutup di level Rp4.080 naik 0,25 persen, sejak awal tahun saham BRI naik 11,48 persen. Terakhir, saham Mandiri ditutup di level di Rp7.175 turun 0,69 persen, sejak awal tahun sahamnya turun 2,71 persen.Dari sisi kinerja, ketiga bank tersebut konsisten mengantongi pertumbuhan laba, meskipun pada semester I 2019 labanya tumbuh melambat secara tahunan (yoy). BRI membukukan kenaikan laba bersih sebesar 8,19 persen dari Rp14,93 triliun menjadi Rp16,16 triliun. Periode yang sama tahun lalu, BRI berhasil mengantongi pertumbuhan laba 10,78 persen.
Selanjutnya, BNI mengantongi laba Rp7,63 triliun. Angka ini tumbuh 2,7 persen dari sebelumnya Rp7,44 triliun. Namun pertumbuhannya lebih lambat dibandingkan tahun lalu sebesar 16,06 persen. Sedangkan Bank Mandiri mencatatkan pertumbuhan laba sebesar 11,1 persen dari 12,17 triliun menjadi Rp13,53 triliun. Serupa dengan BRI dan BNI laba Mandiri tumbuh melambat dari semester I 2018 sebesar 28,7 persen.
Senada, Analis Anugerah Sekuritas Bertoni Rio merekomendasikan saham perbankan sebagai saham defensif yang patut dikoleksi pelaku pasar. Ia merekomendasikan saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN).
Pada perdagangan pekan lalu, saham BCA berhenti di level Rp29.975 per saham turun 0,08 persen, sedangkan dari awal tahun sahamnya tercatat naik 15,29 persen. Sementara saham BTN ditutup di level Rp2.190 naik 0,46 persen, dari awal tahun saham BTN turun 13,78 persen.
![]() |
Dari sisi kinerja laporan keuangan, BCA bisa dibilang paling moncer karena pertumbuhan laba tahun ini lebih tinggi dibandingkan tahun lalu. BCA mencatat kenaikan laba 12,6 persen dari Rp11,4 triliun menjadi Rp12,9 triliun. Tahun sebelumnya laba perseroan hanya tumbuh 8,4 persen. Sementara itu, laba BTN turun 8,4 persen secara tahunan dari Rp1,42 triliun menjadi Rp1,3 triliun.
"Target harga BCA yakni Rp35.000 dan BTN Rp2.600 per saham," katanya.
Selain sektor perbankan, sektor defensif kedua adalah sektor barang konsumsi (consumer good). Nico mengatakan, penurunan suku bunga acuan BI akan diikuti dengan penurunan suku bunga kredit bank. Turunnya bunga kredit, sambung dia, diprediksi bakal mengerek konsumsi sebab masyarakat memiliki uang lebih untuk konsumsi. Kondisi ini tentunya membawa berkah bagi sektor barang konsumsi.
"Dengan penurunan suku bunga maka diyakini consumer good akan menggeliat," tuturnya.
Ia merekomendasikan saham PT Mitra Adiperkasa Tbk dan PT Ace Hardware Indonesia Tbk. Pada perdagangan minggu lalu saham Mitra Adiperkasa ditutup di posisi Rp1.000 turun 3,85 persen, sejak awal tahun sahamnya naik 24,22 persen. Sedangkan Ace Hardware ditutup pada Rp1.760 turun 1,12 persen, sejak awal tahun sahamnya naik 18,12 persen.
Bertoni menambahkan sektor barang konsumsi menjadi sektor defensif lantaran komponen utama penyumbang kinerja perseroan adalah konsumsi masyarakat. Sementara, konsumsi masyarakat tidak terpengaruh dengan sentimen ekonomi global.Di sisi lain, konsumsi rumah tangga menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi. Pada kuartal II 2019, konsumsi tumbuh sebesar 5,17 persen dan memberikan konstribusi sebesar 55,79 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
"Konsumsi masyarakat yang menopang pendapatan (perseroan)," katanya.
Ia merekomendasikan tiga saham di sektor barang konsumsi meliputi yakni PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP).
[Gambas:Video CNN]
Pada perdagangan pekan lalu, saham Unilever Indonesia ditutup di level Rp45.825 naik 1,16 persen, dari awal tahun sahamnya naik 0,94 persen. Sementara itu, saham Indofood Sukses Makmur ditutup pada posisi Rp7.775 naik 2,30 persen, sejak awal tahun sahamnya naik 4,36 persen dan saham Indofood CBP Sukses Makmur berhenti di level Rp11.775 turun 0,42 persen, sejak awal tahun sahamnya naik 12,68 persen.
Dari sisi kinerja keuangan, pertumbuhan laba Indofood Sukses Makmur dan Indofood CBP Sukses Makmur cukup moncer sebanyak dua digit. Indofood Sukses Makmur mengantongi kenaikan laba 30,1 persen dari Rp1,95 triliun menjadi Rp2,54 triliun. Sementara itu, laba Indofood CBP Sukses Makmur naik 12,4 persen dari Rp2,29 triliun menjadi Rp2,57 triliun.
Sementara itu, Unilever mampu membukukan kenaikan laba 5,12 persen dari Rp3,51 triliun menjadi Rp3,69 triliun. Ia menargetkan saham Unilever bisa melaju ke posisi Rp50.000 per saham, PT Indofood Sukses Makmur ke Rp8.000, dan Indofood CBP Sukses Makmur Rp13.000. (lav)
from CNN Indonesia https://ift.tt/2MBJebj
via IFTTT
Bagikan Berita Ini
0 Response to "Saham Perbankan dan Ritel Jadi Tumpuan di Tengah Gejolak IHSG"
Post a Comment